Kamis, 07 Agustus 2014

Ujung Penantian

Menghela nafas mengulur rindu
Namun, ini bukan sembarang rindu
Rindu ini bertuan dia yang juga merindukan pertemuan agung
Belasan, puluhan, ratusan, ribuan diam agar bisa dimuliakan
disucikan dengan ikatan paling suci
dieratkan dengan tali paling indah

Iya, aku inginkan dirimu yang juga membaca mushaf
aku inginkan dirimu yang berdiri bertakbir dedapanku
aku inginkan dirimu yang paling lantang menyerukan cinta pada yang Maha mencintai
aku inginkan dirimu, dengan segala ketaatanmu...

Dirimu yang mana?
entah yang mana.
biar yang maha menguasai yang memilihkan satu terbaik untukku
dan penantian ini yakinku akan berujung pula dengan yang terbaik

Senin, 07 Juli 2014

-

Kutemukan cahaya yang membuat sujud menjadikan hati lebih hangat
Yakinku bahwa cahaya itu yang akan menjadikan seluruh hayat hidup lebih berarti
Dan, memang benar terjadi
Keasikkan sujud, tunduk, patuh dan menghamba pun tak bisa dibiaskan dengan sederet kata

Paham bahwa diri ini fakir ilmu
Mengerti bahwa aku ini tak pantas meng-aku-aku kan diri didepan orang lain
Pernah mata ini kelu menangisi kebodohan mulut dan seluruh raga
Berapa hati yang terluka dan segunung dosa pun siap menyambut diperaduan terakhir

Aku berjalan bersama cahaya, menghantarkan pada ilmu.
Semakin merasa bodoh dan miskin.
menunduk malu melihat sesiapa saja yang lebih anggun dalam bertutur kata
yang lebih pintar dalam merangkai rumitnya hidup dengan cahaya.

Sadar bahwa lebih banyak bersolek agar mendapat perhatian sesama hamba
bukan berhias dan mencari muka untuk Tuan yang Maha Sempurna.

Namun, ternyata cahaya tersebut tidak dalam keadaan benar-benar terang
terangnya hanya dibuat-buat oleh segelintir hamba yang menyuspkan rerantingan kecil agar cahaya itu tetap menyala.

HambaNya justru sibuk mengghibah saudaranya sendiri
HambaNya justru sibuk memerangi tubuh sendiri
HambaNya justru melemah karena seringnya memakan bangkai saudara sendiri
HambaNya justru dirumitkan dengan ideologi-ideologi masing-masing

Kamis, 03 Juli 2014

Tabayun

Melihat caramu bergumam lalu melisankan a-i-u-e-o itu lucu.
Awalnya kita sama-sama belajar
Mengkaji setiap dogma yang dibicarakan
Namun, sepertinya kita sudah salah jalan
Aku yang tidak paham atau kamu yang keterlaluan pintar?

Semua ini klise!
Bahkan yang benar tersamarkan
Memangnya aku tau mana yang benar?
sayangnya tidak

Aku kurang mentabayuni Tuhan
yang menjadikan apa yang kulakukan hambar.
Aku kurang mentabayuni-mu
sehingga untuk memahami perkataanmu pun sukar.